Dieng Plateau – Negeri Candi, Kawah Vulkanik, Rambut Gimbal hingga Kentang

Dieng merupakan negeri candi, kawah vulkanik, kentang, hingga pusat peradaban Jawa. Dataran tinggi (disebut juga plateau atau plato) adalah dataran yang terletak pada ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Untuk itu, dataran tinggi Dieng seringkali disebut Dieng Plateau. Arti kata Dieng sendiri adalah tempat bersemayamnya para Dewa. Dieng berasal dari dua kata sansekerta, di yang berarti tempat, dan hyang yang berarti Dewa pencipta (di-hyang: dieng). Ketinggian dataran Dieng berkisar 2.565 mdpl yang berada pada enam kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Kendal, Batang, dan Pekalongan.

Tugu Selamat Datang Dieng
Tugu Selamat Datang Dieng

Keberadaan Candi Dieng

Keberadaan Candi di dataran tinggi Dieng merupakan sekumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Candi-candi di Dieng diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Adanya prasasti bertuliskan tahun 808 M dalam huruf jawa kuno menandakan bukti prasasti tertua. Bukti sejarah berupa Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan Dieng telah tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Candi Dieng, terletak di lembah datarang tinggi Dieng
Candi Dieng, terletak di lembah datarang tinggi Dieng

Pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama yang berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai dengan perempat pertama abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca. Tahap kedua berlangsung sampai sekitar tahun 780 M.

Candi Dieng pertama kali ditemukan kembali pada 1814 oleh seorang tentara Inggris. Tentara tersebut sedang berwisata ke daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga.  Pada 1956, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen. [Perpustakaan Nasional]

Keberadaan Kawah dan Telaga Vulkanik

Kawah Sikidang, Dieng
Kawah Sikidang, Dieng

Keberadaan aktivitas vulkanik di dataran tinggi Dieng terdiri dari dua stratovolcano (Butak Petarangan dan Dieng) dan banyak kawah. Danau asam yang hangat mengisi sebagian dari kawah. Puncak gunung api di Dieng diantaranya: Bismo, Srojo, Binem, Pangonan, Merdodo, Pagerkandang, Nogosari, Petarangan, Telogo Dringo, Pakuwaja, Kendil, Kunir dan Prambanan.

Terdapat beberapa kawah vulkanik di dataran tinggi Dieng, yaitu Kawah Sikidang, Kawah Sigajah, Kawah Kumbang, Kawah Sibanteng, Kawah Upas, Telogo Terus, Kawah Pagerkandang, Kawah Sipandu, Kawah Siglagah dan Kawah Sileri. Butak Petarangan adalah gunung api kedua yang terletak di kompleks Dieng yang terdiri dari danau kawah bernama Telogo Dringo dan hamparan kawah Condrodimuko. [John Seach – volcanolive.com]

Gunung Dieng juga terkenal karena melepaskan karbondioksida (CO2) beracun, yang terkadang menimbulkan korban jiwa penduduk setempat. Emisi karbondioksida itu bisa merusak vegetasi sekitar, penduduk setempat pun menyebutnya “lembah kematian”.

Sepanjang sejarah, Kawah Sileri paling banyak memakan korban. Tercatat pada 4 Desember 1944, Kawah Sileri mengalami erupsi freatik. Dalam tragedi itu,  117 orang meninggal dunia.  Terakhir, Kawah Sileri kembali mengalami erupsi pada 2/7/2017, tidak menyebabkan korban jiwa, namun terdapat 20 orang wisatawan mengalami luka ringan.

Dalam laporan ekspedisi cincin api yang ditulis oleh Kompas, Dieng merupakan kaldera raksasa purba berukuran panjang 14 kilometer dan lebar 6 kilometer dengan arah timur ke barat yang sangat padat penduduk. Selain karena keindahan panorama alam dan potensi pariwisata, daya tarik utama warga untuk bermukim di ceruk kawah purba itu adalah tanah subur yang terbentang dari material letusan gunung api-gunung api di kompleks Dieng (Kompas: 2017).

Dieng Negeri Kentang

Kebun Kentang, Dieng (Negeri Kentang)
Kebun Kentang, Dieng (Negeri Kentang)

Masyarakat di Dieng Plateau kebanyakan bersumber penghasilan dari bertani. Komoditas pertanian utama di Dieng Plateau adalah Kentang.  Menurut Badan Pusat Statistik (2014), produksi kentang terbesar di Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 273.513 ton dan Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai salah satu penghasil kentang terbesar di Jawa Tengah. Lebih dari 85% produksi kentang di Kabupaten Wonosobo dihasilkan di Kecamatan Kejajar yang juga dikenal sebagai sentra usahatani kentang di Kabupaten Wonosobo. Letaknya yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng membuat kentang dapat tumbuh subur di daerah tersebut karena kentang sangat baik dibudidayakan di lingkungan beriklim sejuk (Liana Fatma Leslie Pratiwi: 2017).

Persoalan komoditas kentang yang tinggi juga menjadi tantangan. Di sisi lain, upaya deforestasi untuk budidaya tanaman kentang dan sayuran juga dikhawatirkan berdampak pada erosi dan ketidakseimbangan alam di dataran tinggi Dieng. Hal ini terlihat dengan adanya longsor tahunan, terutama pada musim hujan.

Agenda Tahunan Dieng Culture Festival (Festival Budaya Dieng)

Pentas Budaya Dieng Culture Festival
Pentas Budaya Dieng Culture Festival

Tempat wisata dataran tinggi dieng sangat baik dikunjungi pada bulan Juli-Agustus. Pada bulan tersebut, suhu di Dieng dapat mencapai -4 derajat pada dini hari. Hal ini menjadi sebab adanya embun yang membeku seperti bunga es. Embun ini menempel di setiap hamparan lahan dataran tinggi Dieng.

Terdapat agenda tahunan yang juga dilaksanakan setiap awal Agustus. Agenda ini dari awal sejarahnya adalah agenda rutin tahunan masyarakat dataran tinggi Dieng untuk melakukan ritual pemotongan rambut gimbal. Masyarakat setempat menyebutnya rambut gembel. Pemotongan rambut gimbal ini bertujuan untuk berdoa dan tolak bala. Mendoakan anak berambut gimbal supaya menjadi anak yang berguna dan terhindar dari marabahaya. Anak berambut gimbal bebas mengajukan permintaan untuk dikabulkan oleh orang tuanya sebagai syarat pemotongan tambut gimbal. Tak jarang anak berambut gimbal meminta hewan ternak, sepeda, mainan, hingga yang paling lucu adalah melihat kemaluan Ibunya.

Ritual pemotongan rambut gimbal/gembel Dieng Culture Festival
Ritual pemotongan rambut gimbal/gembel Dieng Culture Festival
Pemberian hewan ternak yang merupakan permintaan anak berambut gimbal pada ritual pemotongan rambut gimbal/gembel Dieng Culture Festival
Pemberian hewan ternak yang merupakan permintaan anak berambut gimbal pada ritual pemotongan rambut gimbal/gembel Dieng Culture Festival

Rambut gimbal tumbuh pada kepala anak-anak Dieng secara alami. Menurut penduduk setempat, tumbuhnya rambut gimbal tidak berdasarkan genetik, namun titisan leluhur.  Anak-anak gimbal di dataran tinggi Dieng dipercaya sebagian masyarakat sebagai titisan Kyai Kolodete, leluhur atau danyang masyarakat setempat.

Pesta Lampion, Dieng Culture Festival
Pesta Lampion, Dieng Culture Festival
Pertunjukan musik jazz atas awan, Dieng Culture Festival
Pertunjukan musik jazz atas awan, Dieng Culture Festival

Kini, Dieng Culture Festival (DCF) tidak hanya berisi ritual pemotongan rambut gimbal. Tetapi juga sajian pertunjukan kesenian dan budaya daerah, pesta lampion, hingga pementasan musik jazz.

Baca juga: Jadwal Festival Budaya Dieng 2018

Pertunjukan musik jazz pada DCF kerap disebut pertunjukan jazz di atas awan atau jazz kemulan sarung (berselimut sarung)Agenda DCF biasanya digelar selama tiga hari. Hari yang dipilih biasanya dimulai hari Jum’at sampai Minggu. Tanggal dan bulan pelaksanaannya biasanya berdasarkan keputusan tetua adat dan masyarakat.

 

 

2 Replies to “Dieng Plateau – Negeri Candi, Kawah Vulkanik, Rambut Gimbal hingga Kentang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *