Menakar Peran Generasi Muda dalam Tradisi dan Potensi Wisata Dieng

Festival Budaya Dieng atau Dieng Culture Festival (DCF) menjadi agenda tahunan sejak 2006. DCF adalah karya pemberdayaan warga dataran tinggi Dieng. Pagelaran pada 3-5 Agustus 2018 merupakan kali ke sembilan DCF, karena penamaan DCF dimulai sejak 2013. Budaya tradisional dan modern dipadukan dalam upaya pelestarian dan peningkatan potensi aset warga Dieng. Sajian kuliner khas Dieng dan suhu dingin yang mencapai titik beku menjadi warna yang membuat pengunjung terkesan dengan DCF. Terlebih dengan sajian jazz atas awan dan festival lampion yang mendominasi unggahan instagram para pengunjung pada tagar #DCF2018, terutama generasi millenial. Gotong royong generasi muda menjadi tonggak pelestarian tradisi dataran tinggi Dieng.

Ritual pemotongan rambut gimbal/gembel Dieng Culture Festival
Tradisi Dieng: Ritual pemotongan rambut gimbal/gembel pada Dieng Culture Festival. Foto: Vani DT

Terdapat ragam acara yang mengisi agenda tahunan DCF, mulai dari pameran Usaha Kecil dan Menengah (UMKM), pameran desa-desa wisata Dieng, kirab budaya, festival caping, festival bunga, festival lampion, ragam pertunjukan seni, jazz atas awan, hingga acara puncaknya ritual pemotongan rambut gimbal. Penyelenggara utama DCF adalah warga desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Baca juga: Jadwal Festival Budaya Dieng 2018

Dalam artikel ini tim DolanTrip mewawancarai Aprilianto, salah satu penyelenggara DCF, dan Patub, gitaris grup band Letto.

Gotong royong generasi muda desa

DCF merupakan upaya warga desa melestarikan kembali budaya ritual pemotongan rambut gimbal yang hampir punah. Gagasan ini dirintis sejak 2003 dan mulai digelar pada 2006. Minat pemuda desa kian meningkat dari tahun ke tahun dalam partisipasi penyelenggaraan agenda tahunan DCF. Selain menjadi ruang belajar pemuda, dampak positif yang dirasakan oleh warga setelah DCF adalah meningkatnya ruang ekonomi warga dalam industri pariwisata di dataran tinggi Dieng.

Bentuk gotong royong pemuda dalam Dieng Culture Festival melalui keterlibatan Sanggar Tari di Dieng
Bentuk gotong royong pemuda dalam Dieng Culture Festival melalui keterlibatan Sanggar Tari di Dieng

Penyelenggara DCF kebanyakaan dari unsur masyarakat, terutama generasi muda desa. Pemuda-pemudi desa di dataran tinggi Dieng meliputi desa Dieng Kulon, dan desa-desa tetangga yang merupakan desa penyangga pelaksanaan DCF. Terjadi kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam persiapan hingga pelaksanaan event tahunan DCF. Peran kolaborasi didominasi oleh masyarakat, mencapai 90% dan 10% peran dari unsur pemerintah. Hal ini diungkapkan Aprilianto, salah satu penyelenggara DCF.

“Proses persiapan dan pelaksanaan DCF didominasi 90 persen oleh penyelenggara, yang merupakan masyarakat. Sepuluh persennya dari pemerintah seperti pemerintah desa, Dinas Pariwisata Banjarnegara, hingga Kementerian Pariwisata,” terang Aprilianto yang akrab dipanggil Ape.

Terdapat berbagai peran untuk para relawan DCF selain menjadi penyelenggara acara. Salah satunya “Aksi Dieng Bersih” yang digagas untuk menyiapkan venue sebelum acara, hingga pembersihan sisa-sisa lampion dan perkakas lainnya setelah pagelaran DCF.

Melestarikan budaya Dieng yang rentan punah

DCF merupakan upaya pangarusutamaan budaya lokal masyarakat dataran tinggi dieng. Salah satu budaya uniknya adalah ritual pemotongan atau pencukuran anak berambut gimbal. Ritual ini merupakan acara utama DCF. Sedangkan jazz atas awan adalah acara penyerta atau side-event untuk menarik banyak pengunjung terutama penikmat musik dan generasi millenial sebagai isian hiburan malam.

Ritual pemotongan rambut gimbal adalah tradisi turun-temurun masyarakat dataran tinggi Dieng setiap ada warganya yang berambut gimbal. Rambut gimbal dipercaya oleh masyarakat Dieng sebagai warisan leluhur, biasanya diperoleh oleh anak-anak. Adanya anak berambut gimbal bukan dari garis keturunan atau genital, melainkan titisan Kyai Kolodete, leluhur atau danyang masyarakat Dieng.

Anak yang rambutnya tumbuh gimbal, biasanya diawali dengan gejala suhu tubuh yang meningkat, sehingga kerap anak berambut gimbal bertingkah rewel. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat Dieng memercayai harus diadakan ritual pemotongan rambut gimbal sebagai tolak bala. Ritual ini dipimpin oleh tetua adat Dieng. Ditelusuri dari hikayat masyarakat Dieng, ritual ini diadakan seperti hajatan besar yang mengundang banyak saudara, tetangga, hingga warga dataran tinggi Dieng lainnya. Hajatan besar ini merupakan bagian ritual pemotongan rambut gimbal yang tak terpisahkan. Potongan rambut gimbal selanjutnya dilarung (dilepaskan) di Telaga Balekambang atau Telaga Warna, Dieng.

Antusiasme atau kepedulian masyarakat Dieng dalam menjalani ritual kian menurun dari tahun ke tahun, terutama anak muda. Kepedulian anak muda rendah meskipun hanya untuk hadir dalam acara ritual tersebut. “Ngga pedulinya misal, tetangganya gimbal. Pemuda sudah tidak lagi tertarik mengikuti ritual cukur rambut gimbal yang diadakan oleh tetangganya. Misal tetangga melakukan ritual sendiri, itu sepi. Nggak seperti dulu saat saya kecil, setiap ritual pemotongan rambut gimbal seperti hajatan besar yang mengundang banyak saudara, tetangga, hingga warga dataran tinggi Dieng. Kita mulai panik, kalau ini dibiarkan sangat menghawatirkan, karena anak gimbal adalah berkah.” terang Ape.

Menyikapi angka kepedulian masyarakat terhadap tradisi Dieng yang kian rendah, maka DCF digagas untuk mengangkat budaya lokal dan membumikan kembali tradisi yang sudah hampir punah. Maka, ritual pemotongan rambut gimbal dijadikan menu utama pagelaran festival budaya Dieng yang digelar sejak 2006. Pada 2006, festival budaya ini dinamai dengan Pekan Budaya Dieng, namun sejak 2009 dinamakan dengan Festival Budaya Dieng atau Dieng Culture Festival. Agenda DCF ini bukan hanya menyasar masyarakat lokal, tapi juga masyarakat luas untuk bisa belajar dari kearifan budaya Dieng.

Antusiasme pengunjung Dieng Culture Festival

Terdapat sedikitnya 170,000 (seratus tujuh puluh ribu) pengunjung selama tiga hari agenda DCF (3-5 Agustus 2018). Data ini didapat dari pelayan telekomunikasi, Telkomsel. Sedangkan tahun 2017 hanya mencapai angka 140,000 pengunjung. Data tersebut belum meliputi pengunjung sebagai pengguna pelayan telekomunikasi lainnya seperti Indosat, Three, XL, dan lainnya. Pengunjung DCF 2018 melebihi target penyelenggara. Jumlah pengunjung yang ditargetkan oleh penyelenggara adalah 140,000 pangunjung. Hal ini menyebabkan penyelenggara harus lebih gesit dalam mensiasati pagelaran agar tetap nyaman dan aman.

Strategi memindah venue atau lokasi acara DCF ke tempat yang lebih luas merupakan upaya penyelenggara mensiasati jumlah pengunjung yang terus bertambah setiap tahun. Perpindahan tempat DCF masih dalam komplek Candi Arjuna. Sebelumnya, lapangan Arjuna menjadi lokasi DCF, sebelah timur Candi Arjuna (maksimal 3,000 penjualan tiket). Pada pagelaran DCF 2018, lokasi dipindah ke lapangan Pandawa, sebelah barat Candi Arjuna, karena pertimbangan lahan yang labil, dan kapasitas lahan lapangan Arjuna.

“Pertimbangan kita banyak sekali, mulai dari getaran sound system, loading venue yang harus mendatangkan kendaraan berat, kondisi lahan yang labil, dan kapasitas venue memuat banyak pengunjung, itu saja (veneu) tidak mampu menampung semua pengunjung” ungkap Ape.

Kebanyakan pengunjung DCF berasal dari Jakarta, mencapai 70 persen pengunjung. Sementara 25 persennya berasal dari Semarang, dan 5 persen sisanya berasal dari luar Jakarta dan Semarang, meliputi Wonosobo, Jogja, Purwokerto, dan lainnya. Data ini berdasar pada data penjualan tiket oleh penyelenggara. Penyelenggara menyediakan 3,500 tiket untuk event DCF 2018.

Perlu diketahui, pengunjung DCF tidak diharuskan memiliki tiket untuk dapat menyaksikan semua sajian pagelaran. Pengunjung yang memiliki tiket selain mendapatkan paket merchadise, juga dapat masuk ke area ritual dan jazz atas awan. Pengunjung non-tiket tetap dapat menikmati suguhan budaya Dieng. Pembatasan tiket dilakukan untuk kepentingan penataan venue, karena luas lahan dan kapasitas komplek Candi Dieng terbatas.

Jazz atas awan menjadi ajang ekspresi generasi millenial

Jazz atas awan merupakan pertunjukan musik yang digelar penyelenggara DCF sebagai muatan ekspresi masyarakat lokal Dieng hingga musisi indie dan nasional. Adanya jazz atas awan digagas untuk menarik pengunjung sebagai pintu masuk pangarusutamaan tradisi lokal dan budaya Dieng. Muatan tradisi seperti tarian dan kesenian lokal Dieng kerap disisipkan pada pagelaran jazz atas awan. Awalnya, jazz atas awan diadakan untuk mengisi hiburan malam, karena pagelaran DCF sebelumnya hanya disajikan pada siang hari.

Hiroaki Kato dan Letto saat pagelaran jazz atas awan 2018
Hiroaki Kato dan Letto saat pagelaran jazz atas awan 2018. Foto: Nugroho DT

Penyelenggara juga menggelar audisi bagi siapa saja yang berminat untuk tampil pada pagelaran musik jazz atas awan. Pada 2018, terdapat 180 musisi atau grup band yang mendaftarkan diri untuk mengikuti audisi penampil jazz atas awan, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Audisi ini dilakukan selama dua bulan sebelum pagelaran. Peminat audisi merupakan musisi lokal atau grup band indie dari ragam genre, kebanyakan dari generasi millenial. Selanjutnya penyelenggara memilih beberapa peserta audisi untuk menjadi penampil pada pentas jazz atas awan. Menurut penyelenggara, hal ini yang menjadikan agenda DCF tidak membosankan seperti event-event musik lainnya yang hanya diisi oleh musisi yang sudah terkenal. Penyelenggara menyediakan panggung untuk ajang ekspresi bagi musisi lokal dan band indie pada pagelaran jazz atas awan.

Baca juga: Perjalanan Jazz Atas Awan Dieng hingga 2018, Romantisme dan Kejutan Artis

Tanggapan Letto mengenai Dieng Culture Festival

Noe, vokalis grup band Letto berharap acara semacam ini tidak pernah berhenti di seluruh tanah Indonesia. “Ya Alloh semoga saudara-saudara yang di sini selalu Kau jaga manfaatnya. Selalu Kau jaga rejekinya, selalu Kau jaga martabatnya, selalu Kau jaga hati dan pikirannya ya Alloh. Semoga acara semacam ini tidak pernah berhenti di seluruh tanah Indonesia,” doa Sabrang setelah menuntaskan pentasnya dengan tembang Sebelum Cahaya.

Letto merupakan penampil yang disiapkan penyelenggara sebagai kejutan kepada pengunjung jazz atas awan. Hal ini menarik menurut Patub, gitaris Letto.

“Menarik. Tidak baru, tapi selalu saja bisa menarik dan jadi gimmick atau cirikhas DCF.” ungkap Patub.

Menyikapi pengunjung DCF, khususnya jazz atas awan yang kebanyakan berasal dari generasi millenial, Patub menegaskan bahwa tradisi tidak mengenal generasi A-Z. Tradisi hidup terus karena dihidupi. Kalau kita tidak menghidupi ya siap-siap saja mati. Letto berpesan untuk generasi muda supaya selalu menjaga tradisi, keramahan, selalu berkarya dan sibuk bekerja.

“Kalau berani, jadikan musik “nomer 2″. Yg pertmaa adalah keramahan setempat, kesiapan, kerjasama berbagai pihak, pariwisata, benar2 ada gerakan riil menjaga tradisi, dan sll ajak generasi muda berkarya dan sibuk bekerja. Musik hanya gerbang masuk,” pesan Patub dari kanal percakapan wawancara WhatsApp.

Senada dengan ungkapan Ape, bahwa event DCF ini memang dimaksudkan untuk melestarikan tradisi Dieng, terutama pemotongan rambut gimbal. Untuk itu, ritual budaya ini yang dijadikan menu utama DCF. “Setuju dengan mas Patub, DCF ini memang niat utamanya untuk mempromosikan tradisi Dieng. Mengenai jazz atas awan, kami ibaratkan seperti memberi gula dari sajian kopi,” ungkap Ape.

Ditanya soal banyaknya pengunjung yang memenuhi venue jazz atas awan, Patub mengkonfirmasikan bahwa mengenai bagian “musik nomer 2” perlu diberi tanda petik. Artinya tidak secara harfiah menggeser musik ke nomor dua. Nyatanya jazz atas awan adalah event musik. Patub menantang generasi muda untuk menjadikan musik seperti restoran dengan beragam menu. Orang datang ke restoran karena masin-masing ingin menu yang berbeda. Ketika menunya enak dan sehat, konsumen pasti datang lagi. Restoran hanya tempat mewadahi menu-menu terbaik.

Letto mengaku, tantangan bermain musik di Dieng berlipat-lipat. Saat suhu Dieng mencapai titik beku, secara fisik perlu mengambil cadangan lemak yang tersisa. Secara teknis, beberapa instrumen menurun performanya ketika suhu mendekati 0 derajat.

“Saya misalnya, merasakan senar gitar sudah seperti kawat jembatan gantung. Keras, tidak bisa dibending, dan tidak keluar tone nya. Kalo dipaksa, selain tidak ada gunanya, jari beresiko terluka juga. Instrument lain jg mengalami ‘siksaan’ yg sama. Tapi inilah yg ‘dijual’ di Dieng. Kami datang tentu kami siap bergembira dg apapun resiko yg datang.” terang Patub Letto.

Efek bola salju setelah Dieng Culture Festival

Pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata meningkat sejak agenda tahunan DCF. Masyarakat yang tadinya hanya bersumber penghasilan dari sektor pertanian, berkembang menjadi penjual kuliner Dieng, cafe kopi, pemandu perjalanan, hingga berkreasi dan menjual merchandise. Selain efek positif tersebut, tentunya ada efek negatif yang disisakan industri pariwisata di Dieng. Beberapa efek negatifnya salah satunya terdapat penyempitan jalan karena banyaknya masyarakat yang membuka outlet layanan dan penjualan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *